Kemiskinan & Ketimpangan

Meningkatnya Ketimpangan Pendapatan di Indonesia

“ Pada tahun 2012, rata-rata pendapatan penduduk 10% terkaya adalah 12 kali lipat rata-rata pendapatan penduduk 10% termiskin. Dalam lima tahun, rasio ini meningkat pesat dari hanya 9.6 kali lipat di tahun 2007. Indikator ketimpangan yang lain seperti koefisien Gini juga mengalami peningkatan pesat. ”

Selama 10 tahun terakhir ketimpangan pendapatan di Indonesia meningkat cukup pesat. Koefisien Gini, indikator standar ketimpangan pendapatan, setelah cukup stabil pada level moderate (sekitar 0.33) di akhir 1990an, mulai meningkat dari 0.33 di tahun 2001 menjadi 0.41 di tahun 2012. Ini merupakan angka koefisien Gini tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah. Dulu Indonesia sering disejajarkan dengan negara-negara dengan ketimpangan pendapatan sedang atau rendah seperti negara-negara Skandinavia atau mantan Soviet, tetapi dengan angka ini, Indonesia sudah bisa dikategorikan sebagai negara yang relatif tinggi ketimpangan pendapatannya.

Berbagai indikator ketimpangan yang lain juga menunjukkan tren yang serupa. Pada tahun 2012 misalnya, rata-rata pendapatan penduduk 10% terkaya adalah 12 kali lipat rata-rata pendapatan penduduk 10% termiskin. Dalam lima tahun, rasio ini meningkat pesat dari hanya 9.6 kali lipat di tahun 2007.
Besarnya pendapatan yang didistribusikan kepada berbagai kelompok pendapatan juga menunjukkan peningkatan ketimpangan tersebut. Di tahun 2002 misalnya, kelompok 20% terkaya menikmati sekitar 41% pendapatan nasional. Sepuluh tahun kemudian di tahun 2012 kelompok ini menjadi menikmati hampir setengah pendapatan nasional (49%). Sementara itu kelompok 40% termiskin, ketika sepuluh tahun lalu (2002) menikmati 20% pendapatan nasional, pada tahun 2012 menjadi hanya menikmati 16% pendapatan nasional.

Kecenderungan kenaikan tren ketimpangan pendapatan tersebut terjadi baik di level nasional, perkotaan, pedesaan, juga di semua propinsi di Indonesia. Di perkotaan, ketimpangan cenderung lebih tinggi daripada di pedesaan, demikian juga di kota-kota besar. Di Jakarta misalnya, pada tahun 2012, koefisien Gini tercatat sudah mencapai lebih dari 0.42.

Walaupun perlu untuk dikaji lebih jauh secara akademis. Ada beberapa hipotesis yang mungkin menjelaskan kecenderungan peningkatan ketimpangan pendapatan ini. Yang pertama adalah ketidakberpihakan anggaran pemerintah dalam melakukan redistribusi pendapatan sesuai fungsi hakikinya. Anggaran pemerintah belum berpihak kepada golongan berpendapatan rendah. Selama ini, anggaran untuk program-program bantuan sosial (social assitance) nilainya masih seperempat anggaran untuk subsidi BBM yang notabene banyak dinikmati golongan kaya. Selain itu sistem perpajakan terutama pajak pendapatan perseorangan belum optimal dan belum berfungsi sebagai instrumen redistribusi pendapatan.

Berkurangnya ruang fiskal untuk pengeluaran yang berpihak kepada rakyat miskin juga terindikasikan dari semakin timpangnya akses terhadap jasa pendidikan dan kesehatan. Ketimpangan akses terhadap pendidikan tinggi dan air bersih cenderung meningkat belakangan ini.

yang kedua adalah, kenaikan harga internasional dari komoditas ekspor utama Indonesia seperti komoditas perkebunan dan sumber daya alam (misalnya batu bara) yang terjadi pada 10 tahun terakhir. Keuntungan dari sektor-sektor ini umumnya lebih dinikmati golongan pemilik modal karena sifatnya yang padat modal atau menguntungkan pemilik lahan besar.

Yang ketiga adalah ketidakberpihakan regulasi ketenagakerjaan yang cenderung hanya menguntungkan kaum pekerja formal yang jumlahnya jauh lebih sedikit daripada pekerja informal plus mereka yang belum bekerja. Intervensi politik sering membuat tekanan pada keputusan-keputusan regulasi ketenagakerjaan yang berakibat pada regulasi ketenagakerjaan yang tidak fleksibel sehingga mengurangi kesempatan kerja formal. Akibatnya informalisasi tenaga kerja menjadi meningkat. Tingkat upah riil di pedesaan misalnya cenderung mengalami penurunan pada sepuluh tahun terakhir. Ini mengindikasikan semakin berlimpahnya penawaran tenaga kerja di pedesaan sebagai akibat berkurangnya kesempatan kerja formal di pedesaan. Yang keempat adalah pertumbuhan ekonomi yang menjadi semakin tidak pro-poor. Pada periode 1990-1996, misalnya pendapatan rata-rata orang Indonesia naik 1.3% lebih cepat daripada orang miskin. Pada periode 2002-2012, penduduk miskin semakin tertinggal. Rata-rata pendapatan orang Indonesia tumbuh 2.2% lebih cepat daripada pendapatan penduduk miskin. Salah satu yang mungkin menjadi penyebab adalah sektor yang memberikan kontribusi pada pertumbuhan adalah sektor yang relatif tidak memberikan kontribusi terhadap masyarakat miskin. Selama 10 tahun terakhir misalnya, salah satu sektor yang cukup tinggi pertumbuhannya adalah sektor jasa seperti jasa telekomunikasi yang relatif padat modal dan padat teknologi.

Komentar Anda (1)

  • JP March 11, 2015 - 8:56 am

    Saya sejujurnya sangat suka dengan tulisan Anda. Jika saya boleh menyarankan bisakah tulisan anda mencantumkan nama penulis (editor yg bertanggung jawab) sekaligus tanggal tulisan diterbitkan. terimakasih, Salam hangat JP w.www.jurnalphobia.org

Beri Komentar